UANG BEREDAR DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA

Juni 23, 2009 nisa

LATAR BELAKANG

Uang adalah alat untuk memenuhi kebutuhan manusia. Uang memiliki peranan strategis dalam perekonomian terutama karena fungsi utamanya sebagai media untuk bertransaksi, sehingga pada awalnya sering diartikan bahwa uang adalah esuatu yang dapat diterima umum sebagai alat pembayaran. Namun sejalan dengan perkembangan perekonomian, fungsi uang yang semula hanya sebagai alat pembayaran berkembang menjadi alat satuan hitung dan sebagai alat penyimpan kekayaan.

Hadirnya uang dalam sistem perekonomian akan mempengaruhi perekonomian suatu negaara, yang biasanya berkaitan dengan kebijakan-kebijakan moneter. Pada umumnya analisis ekonomi suatu negara ditentukan oleh analisis atas ukuran uang yang beredar. Samuelson mengatakan bahwa banyak ekonom percaya bahwa perubahan jumlah uang beredar dalam jangka panjang terutama akan menghasilkan tingkat harga, sedangkan dampaknya terhadapa output real, adalah sedikiu atau bahkan tidak ada.[1]

Pentingnya peranan uang menyebabkan perlunya mempelajari perkembangan serta perilakunya dalam suatu perekonomian. Uang beredar sering dikaitkan dengan suku bunga, pertumbuhan ekonomi, perkembangan harga, dsb. Jumlah uang beredar yang terlalu banyak dapat mendorong kenaikan harga barang-barang secara umum (inflasi). Sebaliknya, apabila jumlah uang beredar terlalu sedikit maka kegiatan ekonomi akan menjadi seret. Oleh karena itu, jumlah uang beredar perlu diatur agar sesuai kapasitas ekonomi.[2]

PERMASALAHAN

Jumlah uang yang beredar dapat dilihat dari sisi pasiva neraca sistem moneter. Sementara itu, sisi active neraca sistem moneter menerminkan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan uang beredar tersebut. Dengan melihat perkembangan neraca sistem moneter dari waktu ke waktu maka akan dapat diketahui perkembangan uang beredar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dalam penelitian ini penulis membatasi diri pada peredaran uang periode April 2007 sampai dengan April 2009. Penulis akan melihat seberapa kuat atau lemahnya hubungan (korelasi) antara jumlah uang beredar dan faktor-faktor yang memepngaruhinya. Oleh karena itu permasalah penelitian yang dapat dikemukakan adalah : “Bagaimana tingkat korelasi antara jumlah uang beredar dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya?”.

KERANGKA TEORITIS DAN EMPIRIS

Kerangka Teoritis

Teori permintaan uang sebelum Keynes sering juga diebut teori permintaan uang klasik, karena landasan pemikiran mengenai perekonomiannya menggunakan asumsi klasik, yaitu perekonomian berada dalam keadaan seimbang. Beberapa teori permintaan uang klasik:[3]

Teori Irving Fisher (transaction approach)

Teori ini mendasarkan pada flasafah hokum say, bahwa ekonomi akan selalu berada dalam keadaan full employement. Menurut Fisher, apabila terjadi suatu transaksi antara penjual dan pembeli, maka terjadi pertukaran antara uang dan barang/jasa, sehingga nilai dari uang yang ditukarkan pastilah sama dengan nilai barang/jasa yang ditukarkan. Atau secara matematis dapat ditulis sebagai berikut:

MV = PT

Dimana:  M adalah jumlah uang yang beredar(penawaran uang),

V adalah tingkat kecepatan (velocity) perputaran uang,

P adalah harga barang/jasa, dan

T adalah jumlah barang/jasa yang menjadi objek trnsaksi.

Kemudian dalam versi lain, volume barang yang diperdagangkan (T) diganti dengaan output riil (O) sehingga persamaannya berubah menjadi:

MV = PO = Y

Dalam teori kuantitas uang ini, Irving Fisher mengasumsikan bahwa keberadaan uang pada hakikatnya adalah flow concept. Keberadaan uang ataupun permintaan uang tidak dipengaruhi oleh suku bunga, tapi besar kecilnya uang akan ditentukan oleh kecepatan perputaran uang tersebut.

Teori Cambridge ( cash balance approach)

Kaum ekonom Cambridge, seperti Marshal dan Pigou, menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang untuk memegang uang tunai (cash balances) ditentukan oleh tingkat bunga, jumlah kekayaan yang dimiliki, harapan mengenai tingkat suku bunga di masa yang akan dating, dan tingkat harga. Namun, dalam jangka pendek faktor-faktor tersebut bersifat tetap (konstan) atau berubah secara proporsional terhadap pendapatan. Jadi, kaum Cambridge menyatakan bahwa keinginan seseorang untuk memegang uang tunai secara nominal adalah proporsional terhdap pendapatan nominal seseorang. Atau secara matematis dapat ditulis sebagai berikut:

Md = kY

Dalam hal ini: Md adalah jumlah uang tunai yang dipegang oleh masyarakat (permintaan uang),

k adalah konstanta yang menunjukkan presentase jumlah uang tunai yang dipegang terhadap pendapatan

Y adalah pendapatan.

Berdasarkan persamaan tersebut, jika y = Y/P, maka Md = k.p.Y atau dapat dimanipulasi menjadi:

Md / P = k Y

Persamaan di atas menunjukkan apabila terdapat kenaikan pada penghasilan nasional ecara riil, maka permintaan akan uang tunai juga akan naik.

Teori Keynes

Menurut Keynes, seseorang mengatur uang atau asetnya dipengaruhi oleh tiga hal, sebagai berikut:

  1. Money demand for transaction (permintaan uang untuk transaksi)
  2. Money demand for precautionary (permintaan uang untuk berjaga-jaga)
  3. Money demand for speculation (permintaan uang untuk spekulasi)

Dalam analisis pendapatan nasional, variabel permintaan uang untuk tujuan transaksi dan untuk tujuan berjaga-jaga biasanya menjadi satu variabel, yaitu permintaan uang untuk transaksi berjaga-jaga (M1-). Jadi, jika permintaan uang untuk transaksi adalah Mt, permintaan uang untuk tujuan berjaga-jaga Mp, maka formulasi permintaan uang untuk tujuan transaksi berjaga-jaga adalah sebagai berikut:

M1 = Mt + Mp

Dengan ketentuan bahwa:

M1 = f (Y)

Mp = f (Y)

Mt = f (Y)

Keynes membuat asumsi bahwa semua surat berharga tidak mempunyai jatuh tempo (concol), sehingga nilai sekarang surat berharga ditentukan oleh hasil dan tingkat bunga, yang dinyatakan dalam persamaan;

N = R/ i [ 1-1/(1+i)n] i

Keterangan: N: nilai surat berharga

R: hasil yang diperoleh

i: tingkat bunga

untuk obligasi yang tidak ada jangka waktu pengembaliannya berarti n tak terhingga (disebut consol), formulasi nilai obligasi adalah sebagai berikut:

N = R/i

Teori Permintaan Uang Setelah Keynes:

Teori Baumol

Baumol menyatakan bahwa adanya lembaga keuangan yang memberikan bunga menyebabkan orang yang memegang uang tunai akan menderita kerugian yang disebut opportunity costs. Seseorang memperoleh pendapatan pada awal suatu periode dapat menentukan berapa kali ia akan melakukan transaksi ke bank. Apabila pendapatnnya sebesar Y dan ia menetapkan akan pergi ke bank sebanyak 2 kali, maka awal periode ia harus memasukkan uang ke bank sebesar (1/2)Y; dan kalu ia menetapkan akan ke bank sebayak 3 kali maka awal periode uang yang harus dimasukkan sebesar (2/3)Y, dst. Jadi, seseorang yang menetapkan akan melakukan transaksi ke bank sebanyak n kali rata-rata memegang uang tunai sebesar (n-1)Y/2n dan apabila tingkat bunga sebesar I maka pendapatan ® dari bunga sebesar:

R = (n-1)iY

2n

= iY

2n2

Teori Tobin

Tobin menjelaskan bahwa motivasi seseorang memegang uang tunai untuk tujuan spekulasi menggunakan pendekatan porotfolio. Menurut Tobin, pada kenyataannya setiap ketidakpastian. Seseorang yang memegang surat berharga mengharapkan akan memperoleh pendapatan (e):

e = i + g

di mana:  i = bunga

g = keuntungan modal

jadi, seseorang yang memiliki sejumlah surat berharga (B) mengharapkan akan memperoleh pendapatan total (RT) sebesar:

Rr = B x e = B (i+g)

Memegang uang tunai juga mempunyai resiko, yaitu adanya kerugian modal karena turunnya harga surat berharga. Apabila resiko yang dihadapi dalam memegang sebuah surat berharga adalah sebesar σg, maka resiko total yang dihadapi (T) oleh seseorang yang memegang sejumlah surat berharga (B) adalah:

T = B x σg  dan B = T/σg

Dengan memasukkan B = T /σg ke dalam persamaan:

RT = T(i+g)/ σg

RT/T = (i+g)/ σg

Teori friedman

M. Friedman adalah seorang ekonom klasik yang menyatakan bahwa seseorang atau suatu perusahaan memegang uang tunai karena memperoleh kepuasan (utility), sebagaimana halnya dengan barang konsumsi tahan lama lainnya. Friedman merumuskan teori permintaan uang sebagai berikut:

Md/P = k ((r1,…….,rj) y

Atau

Md/y = k (r1,……..,rj)

Ket: md = permintaan uang tunai riil

R = tingkat pengembalian (rate of return)

1,…,j = jenis kekayaan, termasuk tingkat bunga.

Uang dalam Ekonomi Islam

Uang Menurut Ibnu Taimiyah

Secara garis besar Ibnu Taimiyah menyampaikan lima poin penting:

  1. perdagangan uang akan memicu inflasi
  2. hilangnya kepercayaan orang akan stabilitas nilai uang akan mencegah orang melakukan kontrak jangka panjang dan menzalimi golongan masyarakat yang berpenghasilan tetap sebagai pegawai
  3. perdagangan domestic akan menurun karena kekhawatiran stabilitas nilai uang
  4. oerdagangan internasional akan menurun
  5. logam berharga akan mengalir keluar dari Negara

Uang menurut Al-Ghazali

Al-Ghazali berpendapat bahwa dalam ekonomi barter sekalipun, uang dibutuhkan sebagai nilai sutu barang. Dengan adanya uang sebagai ukuran nilaibarang, maka uang akan berfungsi sebagai media pertukaran tersebut. Uang tidak mempunyai harga namun merefleksikan harga semua barang. Selain itu, Al-Ghazali juga membolehkan peredaran uang yang sama sekali tidak mengandung emas dan perak asalkan pemerintah menyatakan sebagai alat pembayaran resmi.

Uang menurut Ibnu Khaldun

Ibnu Khaldu menegaskan bahwa kekayaan suatu Negara bukanlah ditentukan dari banyaknya uang di Negara tersebut, tapi ditentukan oleh tingkat produksi negara tersebut dan oleh neraca pembayaran yang positif. Sejalan dengan pendapat Al-Ghazali, Ibnu Khaldun jugs mengatakan bahwa uang tidak perlu mengandung emas dan perak, namun emas dan perak menjadi standar nilai uang.

Uang menurut Al-Magrizy

Taqyuddin Ahmad bin Al-Magrizy adalah salah satu murid Ibnu Khaldun yang mempunyai spesialisasi dalam hal uang dan inflasi. Beliau membagi inflasi menjadi dua: inflasi akibat berkurangnya persediaan barang (natural inflation) dan inflasi akibat kesalahan manusia. Inflasi jenis pertama terjadi di zaman Rasulullah dan Khulafa Arrasyidin yang disebabkan kekeringan maupun peperangan. Inflasi jenis kedua menurut Al-Magrizy disebabkan tiga hal. Pertama, korusi dan administrasi yang buruk. Kedua, pajak berlebih yang memberatkan petani. Ketiga, jumlah fullus yang berlebihan atau yang oleh Milton Friedman disebut”inflation is just a monetary phenomenon”.

Permintaan Uang menurut Mazhab Iqtishoduna

Menurut mazhab ini, permintaan uang hanya ditujukan untuk dua tujuan pokok, yaitu transaksi dan berjaga-jaga atau untuk investassi. Secara matematis formula permintaan uang dapat dituliskan sebagai berikut: (diformulasikan Kadism As-Sadr)

Md = Mdtrans + Mdprec

Permintaan Uang menurut Mazhab Mainstream

Jumlah uang yang diperlukan dalam ekonomi Islam hanya memenuhi dua motivasi (transaksi dan berjaga-jaga_ merupakan fungsi dari dua tingkat pendapatan, pada tingkat tertentu yang telah ditentukan zakat atas asset yang kurang produktif. Meningkatnya pendapatan akan meningkatkan permintaan atas uang oleh masyarakat, untuk tingkat pendapatan tertentu yang terkena zakat. Penawaran uang dalam ekonomi Islam dikontrol oleh Negara sebagai pemegang monopoli atas penerbitan mata uang sebagai alat tukar yang sah (legal tender). Penawaran uang diasumsikan bebas dari tingkat biaya yang dikenakan atas asset yang tidak produktif dan ditetapkan oleh otoritas moneter sebagai proporsi bagi nilai transaksi atau tingkat pendapatan, yaitu:

Ms = f ( µ )

Dan Ms = α Y ; α > 0

Asumsi tentang pengaruh perluasan penawaran uang ini dengan mudah dapat dimodiikasi tanpa berpengaruh pada analisisnya. Suatu kondisi yang penting bagi keseimbangan pasar uang ialah bahwa penawaran uang harus seimbang dengan permintaan uang.

Ms = Md

Bila kebutuhan uang melebihi penawaran, maka kelebihan itu dieliminir dengan meningkatnya biaya atas uang menganggur. Dengan kata lain, jika, misalnya pada tingkat pendapatan (Y0) dan tingkat biaya (m0) maka:

Md0 (Y01) > Ms0 = α Y0

Jadi otoritas Islam akan meningkatkan biaya atas uang menganggur untuk mencapai tingkat keseimbangan. Dengan pengandaian bahwa tingkat biaya yang baru mencapai m1, maka diperoleh persamaan:

Md0 (Y01) = Ms0 = α Y0

Kenaikan m akan mendorong sekaligus investasi dan konsumsi, dan ini akan menaikkan tingkat pendapatan menjadi Y1. tingkat pendapatan yang baru akan menaikkan tingkat permintaan uang (Md1), selanjutnya tingkat keseimbangan baru akan diperoleh:

Md1 (Y11) = Ms1 = α Y1

Permintaan Uang Menurut Mazhab Alternatif

Permintaan uang dalam mazhab ini sangat erat kaitannya dengan konsep edogenous uang dalam Islam, yang artinya:’keberadaan uang pada hakekatnya adalah representasi dari volume transaksi yang ada dalam sktor riil”. Menurut Choudhury permintaan uang adalah representasi dari keseluruhan kebutuhan transaksi dalam sector rii. Permintaan uang dan penawaran uang dipengaruhi oleh besar profit sharing atau xpected rate of profit. Tinggi rendahnya expected rate of profit ini merupakan representasi dari prospek pertumbuhan actual ekonomi.

Tinjauan Empiris[4]

Bijan B. Aghevli (1976) mencoba melihat hubungan antara uang dan tingkat harga dengan menggunakan alat analisis model ekonometrik dan sector moneter.

Boediono (1985) mencoba untuk mengidentifikasikan faktor0faktor penentu dari permintaan uang di Indonesia selama periode 1975 -1984. Kajian yang dilakukan mencakup uang kartal (currency), narrow money (M1) dan broad money (M2). Faktor yang mempengaruhi permintaan uang masyarakat adalah gross domestic product (GDP), suku bunga dalam negeri (suku bunga deposito), dan inflasi domestic. Variabel lain yang dijadikan sebagai penentu permintaan uang antara lain: gross domestic income (GDI), interest rate differential (INT).

Price Simon dan Insukendro (1994) mencoba untuk menganalisa komponen permintaan uang dalam arti sempit (money stock) dengan menggunakan teknik ekonometrik modern.

Triatmo Doriyanto (1999) mencoba mengetahui apakan permintaan uang riil di Indonesia selama periode sebelum krisis (sebelum Agustus 1997) dan saat krisis tetap stabil.Produk Domestik Bruto Riil dipergunakan sebagai variabel untuk menaksir transaksi uang yang terjadi.. nilai tukar juga berpengaruh trhadap permintaan uang terutama setelah pemberlakuan sistem nilai tukar berubah menjadi free floating.

METODE PENELITIAN DAN PENYAJIAN DATA

Penelitian ini merupakan analisis deskriptif untuk melihat hubungan jumlah uang yang beredar di Indonesia dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Data yang digunakan bersumber dari publikasi statistik ekonomi dan keuangan Indonesia yang diterbitkan oleh Bank Indonesia. data diolah dengan menggunakan SPSS, yang kemudian dianalisis secara kuantitatif. Pengolahan data dengan statistik deskriptif dan pengujian hipotesisnya menggunakan uji signifikansi r (pearson’s/product moment).

Jumlah uang beredar yang paling tinggi adalah pada periode maret 2009 dengan total 1,909,681 miliar rupiah,sedangkan jumlah terendah pada periode April 2007 yaitu sebesar 1,383,577 miliar rupiah. Rata-rata jumlah uang yang beredar selama 24 bulan adalah 1,654,566.12 miliar rupiah. Pernyataan ini digambarkan dalam table di bawah ini.

Statistics

jml.uangberedar
N Valid

25

Missing

11

Variance

27294258926

Minimum

1383577

Maximum

1909681

Uang yang beredar terdapat pada sisi pasiva neraca sistem moneter yang mencerminkan kewajiban moneter, terdiri dari uang kartal, uang giral, dan uang kuasi yang dimiliki oleh sector swasta domestic. Peredaran uang diatur oleh Bank Indonesia sebagai lembaga otoriter yang berwenang mengatur system moneter.

Untuk menguji hubungan uang beredar dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya, penulis menggunakan uji korelasi Pearson’s. Hasil uji korelasi tersebut yaitu:

  • jumlah uang yang beredar mempunyai hubungan positif dan kuat dengan aktiva luar negeri bersih. Hal ini ditunjukkan dengan nilai korelasi Pearson sebesar 0,897.
  • Jumlah uang yang beredar mempunyai hubungan negatif dan lemah dengan tagihan bersih kepada pemerintah pusat. Hal ini ditunjukkan dengan nnilai korelasi Pearson sebesar -0,038.
  • Jumlah uang beredar mempunyai hubungan poositif kuat terhadap tagihan kredit kepada lembaga pemerintah dan BUMN. Hal ini ditunjukkan dengan nilai korelasi Pearson sebesar 0,966.
  • Nilai korelasi Pearson sebesar -0,372 pada hubungan jumlah uang beredar dengan tagihan lainnya lembaga pemerintah dengan BUMN. Hal ini berarti uang beredar mempunyai hubungan negatif lemah.
  • Jumlah uang beredar mempunyai hubungan positif kuat dengan tagihan kredit pada perusahaan swasta dan perorangan. Hal ini ditunjukkan dengan nilai korelasi Pearson sebesar 0, 973.
  • Jumlah uang beredar mempunyai hubungan netgatif lemah dengan tagihan lainnya pada perusahaan swasta dan perorangan, sedangkn mempunyai hubungan negatif kuat dengan fktor lainnya bersih (termasuk jaminan impor).

Hubungan positif berarti memiliki hubungan yang searah, jika jumlah uang berdar naik, maka faktor yang mempengaruhinya juga naik dan sebaliknya. Sedangkan hubungan negatif berati mempunyai hubungan yang berlawanan arah, jika jumlah uang yang beredar naik maka faktor yang mempngaruhinya turun, dan sebaliknya.

Hubungan tersebut digambarkan pada tabel korelasi terlampir.

DISKUSI DAN INTERPRETASI

Dari penjelasan di atas, dapat dilihat hubungan antar jumlah uang beredar dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Akan tetapi, tidak semua faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah uang beredar dicantumkan dalam tulisan ini. Masih banyak faktor-faktor lain yang tidak disebutkan, seperti tingkat suku bunga, gross domestic product, dll.

Pengertian uang beredar pun telah berkembang sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan perkembangan di sector keuangan dan perbankan. Seperti yang telah diketahui, menjelang akhir abad ke-20 sektor keuangan dan perbankan berkembang pesat. Keadaan tersebut terutama ditunjang oleh perkembangan teknologi yang sangat pesat. Dengan perkembangantersebut, telah berkembang pula produk-produk baru di bidang keuangan dan perbankan, seperti kartu kredit, kartu debit, internet banking, dan mobile banking. Hal ini tentunya secara tidak langsung dimaksudkan untuk menampung keragaman transaksi masyarakat. Oleh karena itu, jenis pengelompokkan uang tidak bias hanya menggunakan M1 dan M2 saja, namun harus ditambahkan M3 untuk pengelompokkan yang lebih rinci lagi.

KESIMPULAN

Dari hasil analisis data mengenai jumlah uang beredar dan faktor-faktornya tadi, maka dapat ditarik kesimpulan sebagi berikut:

  • Terdapat hubungan yang kuat dan searah antara jumlah uang beredar dengan aktiva luar negeri bersih, tagihan kredit pada lembaga pemerintah dan BUMN, serta tagihan kredit pada perusahaan swasta dan perorangan dengan nilai korelasi Pearson masing-masing sebesar 0,897; 0,966; 0,973.
  • jumlah uang beredar mempunyai hubungan yang berlawanan dengan tagihan bersih pada pemerintah pusat, tagihan lainnya pada lembaga pemerinta dan BUMN, tagihan lainnya pada perusahaan swasta dan perorangan, serta faktor lainnya bersih (termasuk jaminan impor dengan nilai korelasi Pearson sebesar -0,035; -0,372; -0,236; -0,802
  • Seiring perkembangan perekonomian maka pengelompokkan uang beredar yang dilakukan Bank Indonesia harus lebih disempurnakan agar pengelompokkannya menjadi lebih rinci.

[1] Eko Suprayitno, Ekonomi Islam: Pendekatan Ekonomi Makro Islam dan Konvensional, Penerbit Graha Ilmu, Yogyakarta: 2005. Hlm. 188.

[2] Solikin dan Suseno, Penyusunan Statistik Uang Beredar, Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan Bank Indonesia, Jakarta: 2002. Hlm. 1.

[3] Opcit., hlm.189-191

[4] Untoro, dalam Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Bank Indonesia, 2007.

About these ads

Entry Filed under: Uncategorized

One Comment Add your own

  • 1. humayra  |  Oktober 24, 2010 pukul 2:33 am

    terimakasih banyak atas informasinya…bagus sekali.. lengkap dan jelas…


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Halaman

Kategori

Kalender

Juni 2009
S S R K J S M
     
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Most Recent Posts

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: